WEDANGAN TOLERANSI BERSAMA GEMA FKUB KOTA SURAKARTAKegiatan Wedangan Toleransi merupakan forum dialog santai yang digagas oleh Generasi Muda Forum Kerukunan Umat Beragama (GEMA FKUB) Kota Surakarta sebagai ruang berbagi gagasan, memperkuat jejaring lintas komunitas, dan meneguhkan nilai-nilai toleransi di kalangan generasi muda. Sabtu 4 Oktober 2025
Acara ini menghadirkan berbagai tokoh penting, di antaranya Ketua FKUB Kota Surakarta KH. Mansuri, Camat Laweyan Bapak Herwin, perwakilan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Bapak Daryono, serta narasumber inspiratif Ibu Astrid Widayani, S.S., S.E., MBA, seorang akademisi dan praktisi bisnis yang aktif menggerakkan literasi dan moderasi beragama di kalangan pemuda.
Kegiatan ini berlangsung dengan suasana hangat dan penuh keakraban, sesuai dengan semangat "wedangan" khas Kota Solo yang lekat dengan budaya dialog dan kebersamaan.
Acara dibuka dengan sambutan hangat dari perwakilan GEMA FKUB yang menekankan pentingnya peran sahabat-sahabat kecamatan sebagai ujung tombak penyebaran nilai toleransi di wilayahnya masing-masing. Setiap kecamatan diharapkan mampu mengeksplorasi pendekatan sesuai karakter dan budaya masyarakat setempat, dengan menjalin kolaborasi bersama pihak kelurahan dan kecamatan.
Dalam dialog tersebut, para peserta diajak merenungkan pesan klasik dari tokoh pendidikan Kiai Ibnu Khalid yang menyatakan:
“Jangan buat ilmu untuk ilmu, tapi gunakan ilmu untuk masyarakat.”
Pesan ini menjadi dasar semangat GEMA FKUB untuk menjadikan pengetahuan dan keahlian sebagai alat penggerak sosial baik melalui media digital, kegiatan literasi, maupun aksi langsung di masyarakat.
Salah satu pembahasan menarik datang dari peserta muda yang menyoroti peran teknologi informasi (IT) dan media sosial dalam membentuk opini publik. Disampaikan bahwa media sosial kini bukan sekadar sarana hiburan, tetapi juga senjata penyebar nilai toleransi dan moderasi beragama.
Namun, diingatkan pula pentingnya menerapkan "Netiquette"etika bermedia digital. Di era saat ini, bukan hanya “mulut harimau”, tetapi juga “tanganmu harimaumu”. Artinya, kesalahan kecil dalam mengetik atau berkomentar di dunia maya dapat berdampak luas.
Para peserta sepakat bahwa generasi muda harus bijak dan selektif dalam berkomunikasi digital, menjadikan media sosial bukan sebagai sumber perpecahan, melainkan ruang kreatif penyebaran pesan damai.
Narasumber utama, Ibu Astrid Widayani, memberikan pandangan yang mendalam tentang pentingnya memahami perbedaan sebagai sumber keindahan, bukan pemisah. Menurut beliau, toleransi tidak hanya berarti membiarkan perbedaan, tetapi memahami dan menghargai keyakinan serta budaya yang berbeda.
Beliau menegaskan “Indahnya keberagaman hanya dapat dirasakan jika kita memahami perbedaan itu terlebih dahulu.”
Ibu Astrid juga mengingatkan bahwa Kota Solo memiliki tantangan tersendiri untuk mengembalikan predikatnya sebagai Kota Toleran, setelah sebelumnya sempat berada di peringkat empat nasional dan kini turun ke peringkat dua belas.
Oleh karena itu, GEMA FKUB dan seluruh elemen masyarakat diharapkan menjadi agen perubahan (agent of change) yang terus menghidupkan semangat dialog, kolaborasi, dan empati social mulai dari lingkungan sekolah, kampus, hingga ruang publik.
Salah satu peserta, Mas Steven, berbagi pengalaman tentang kehidupan toleran di Kota Salatiga, yang dikenal sebagai salah satu kota paling harmonis di Indonesia. Ia mencontohkan bagaimana di lingkungan kampus UKSW, mahasiswa dari berbagai suku, agama, dan daerah hidup rukun tanpa sekat.
Hal ini menunjukkan bahwa toleransi bukan konsep, melainkan budaya yang tumbuh dari kebiasaan saling menghargai. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Solo dalam memperkuat semangat keberagaman.
Ibu Astrid menyebut tiga tantangan utama dalam membangun budaya toleransi:
1. Stereotip dan prasangka terhadap kelompok tertentu.
2. Rendahnya literasi keberagaman, yang membuat orang mudah salah paham.
3. Rasa takut terhadap perbedaan yang belum dikenal.
Solusi yang ditawarkan antara lain meningkatkan literasi sosial dan digital, membuka ruang dialog lintas komunitas, serta menghadirkan kegiatan kreatif seperti film pendek, musik, atau kampanye media sosial bertema perdamaian.
Beliau menutup dengan ajakan: "Berani membuka diri dari perbedaan, menghargai semua latar belakang, dan menjadikan perbedaan itu kekuatan, bukan penghalang.”
Jalan-jalan di Balekambang, uangnya mampir ke Batik Kauman. Berbeda bukanlah penghalang, toleransi kita gunakan untuk kedamaian.
bahwa toleransi adalah aksi, bukan sekadar wacana. menuntut keterlibatan nyata generasi muda dalam merawat harmoni dan menularkan semangat damai kepada masyarakat luas.
GEMA FKUB berkomitmen menjadi motor penggerak toleransi di kalangan muda. IT dan media sosial menjadi sarana strategis untuk menyebarkan nilai-nilai moderasi beragama. Toleransi bukan sekadar slogan, melainkan sikap aktif untuk saling menghormati dan berkolaborasi. Diperlukan peningkatan literasi keberagaman dan kreativitas konten yang positif untuk menjaga citra Solo sebagai kota toleran dan berbudaya.