Informasi

Detail Berita

Wali Kota Surakarta Respati Ardi mendampingi Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon menghadiri puncak Dies Natalis ke-46 Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta

Wali Kota Surakarta Respati Ardi mendampingi Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon menghadiri puncak Dies Natalis ke-46 Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta

Wali Kota Surakarta Respati Ardi mendampingi Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon menghadiri puncak Dies Natalis ke-46 Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta di Rektorat UTP, Rabu (26/8/2026). Kehadiran tersebut menjadi momentum memperkuat sinergi pemerintah, perguruan tinggi, dan Kementerian Kebudayaan dalam menjadikan kebudayaan sebagai bagian penting dari pembangunan dan kemajuan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, Respati mengapresiasi kehadiran Kementerian Kebudayaan sekaligus komitmen UTP dalam menjaga dan mengembangkan nilai-nilai budaya. Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga harus dibangun dengan karakter dan akar budaya yang kuat.

“Kami berkomitmen menjadikan budaya sebagai penopang utama kemajuan bangsa, karena kami yakin bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah meninggalkan akar budayanya. Oleh karena itu, kami memasukkan budaya muatan lokal ke dalam sistem pendidikan kami, mulai dari PAUD, Sekolah Dasar, hingga SMP, agar kita tidak kehilangan suatu peradaban,” ujar Respati.

Respati menambahkan, nilai-nilai budaya dan adab masyarakat Indonesia juga menjadi salah satu kekuatan bangsa yang dapat dibawa dalam berbagai bidang, termasuk ketika masyarakat Indonesia bekerja di luar negeri. Sikap ramah, sopan, dan adaptif, menurutnya, merupakan bagian dari karakter yang lahir dari budaya.

“Budaya bukan hanya tentang seni pertunjukan. Budaya adalah identitas, karakter, sekaligus peradaban. Ini yang harus kita rawat dan kembangkan secara berdaulat,” tegasnya.

Sementara itu, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menyampaikan apresiasi terhadap perjalanan UTP yang telah memasuki usia ke-46. UTP, menurutnya, memiliki sejarah khusus karena didirikan oleh para eks-Tentara Pelajar (TP), sehingga mewarisi nilai-nilai perjuangan yang penting untuk terus dijaga oleh generasi penerus.

Fadli juga mengapresiasi kolaborasi UTP dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah dalam pemugaran dan revitalisasi cagar budaya di kawasan Solo Raya.

Menurut Fadli, pembentukan kementerian khusus yang membidangi kebudayaan merupakan langkah bersejarah dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kebudayaan sebagai jati diri bangsa sekaligus menjalankan amanat konstitusi.

“Sesuai amanat konstitusi kita, Pasal 32 Ayat 1 menegaskan bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya,” kata Fadli.

Ia menyebut Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa atau mega diversity, antara lain 1.340 suku bangsa, 718 bahasa daerah, 2.772 Warisan Budaya Takbenda (WBTB), serta 1.172 Cagar Budaya Nasional.

Kekayaan tersebut, lanjut Fadli, harus dipandang bukan hanya sebagai warisan yang dilestarikan, tetapi juga sebagai modal untuk membangun kekuatan ekonomi baru melalui cultural and creative industry (CCI).

“Kekayaan kebudayaan kita yang luar biasa ini (Cultural Capital) harus kita jadikan sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi baru melalui Cultural and Creative Industry (CCI). Sebagaimana Korea Selatan yang sukses dengan Hallyu atau Amerika Serikat dengan Hollywood, Indonesia memiliki modal kebudayaan yang jauh lebih besar dan tidak ada tandingannya di dunia,” ungkapnya.

Dalam bidang diplomasi budaya, Fadli menyampaikan Indonesia saat ini telah memiliki 16 elemen budaya yang tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia UNESCO, di antaranya Wayang, Keris, Batik, Angklung, Pencak Silat, Reog Ponorogo, Kebaya, Jamu, dan Kolintang. Indonesia juga tengah mengajukan Budaya Tempe (The Culture of Tempeh) serta kesenian Mak Yong sebagai nominasi berikutnya, dengan Mak Yong diajukan bersama Malaysia.

Fadli kemudian mengajak akademisi dan masyarakat untuk membangun kebanggaan terhadap sejarah panjang peradaban Indonesia serta meninggalkan mentalitas kolonial yang masih tersisa.

Ia mencontohkan bukti-bukti arkeologis seperti Situs Sangiran, penemuan sekitar 60 persen fosil Homo erectus dunia, serta lukisan gua di Leang Metanduno, Muna, yang diperkirakan berusia sedikitnya 67.800 tahun.

“Kita harus berani keluar dari residu mentality kolonialisme dan rasa tidak percaya diri. Kita bukan bangsa kemarin sore (Nation State baru), melainkan sebuah Civilization State (Negara Peradaban) yang memiliki jejak peradaban sangat panjang,” tegas Fadli.

Dalam konteks tersebut, Fadli mendorong lahirnya narasi “Out of Nusantara” sebagai bagian dari keberanian bangsa Indonesia membangun perspektif mengenai sejarah peradabannya sendiri.

“Jika teori Barat selama ini selalu mengagungkan narasi Out of Africa, kita punya dasar rasionalitas dan bukti arkeologis maritim yang sangat kuat untuk menyuarakan hipotesis Out of Nusantara,” ujarnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Rektor UTP Surakarta Prof. Dr. Winarti, M.Si. menegaskan bahwa nilai sejarah dan perjuangan menjadi bagian penting dalam identitas UTP. Nilai tersebut diwujudkan melalui Tri Ciri, yakni patriotisme, kepeloporan, dan kemandirian yang terus ditanamkan kepada seluruh civitas akademika.

“Nilai-nilai Tri Ciri bukan sekadar pelajaran, melainkan cara kita hidup dan berkarya. UTP sebagai penyelenggara pendidikan tinggi bukan cuma mengajari ilmu, tetapi juga tempat melestarikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan kebudayaan agar menyatu dalam jiwa serta menjadi salah satu pilar penopang kekayaan budaya bangsa,” ungkap Prof. Winarti.

UTP juga terus mendorong pemajuan budaya melalui berbagai kontribusi nyata. Salah satunya melalui inovasi olahraga tradisional Goara-Goara karya dosen UTP yang telah dilombakan hingga tingkat internasional. Mahasiswa Fakultas Teknik UTP juga dilibatkan dalam kegiatan pemugaran dan pelestarian cagar budaya, seperti museum, keraton, dan candi.

Sinergi antara Pemkot Surakarta, UTP, dan Kementerian Kebudayaan RI diharapkan semakin memperkuat pemajuan kebudayaan melalui dunia pendidikan. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keberagaman (megadiversity) Nusantara agar tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi menjadi kekuatan bagi pembangunan dan kemajuan bangsa di masa depan.