Wali Kota Surakarta Hadiri Prosesi Pindapata, Simbol Toleransi dan Kebersamaan di Hari Tri Suci WaisakSuasana penuh ketenangan dan makna spiritual menyelimuti Balai Kota Surakarta, Kamis (29/5), saat ratusan umat Buddha dan para Bhante mengikuti prosesi Pindapata sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Tri Suci Waisak 2025. Dihadiri langsung oleh Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, kegiatan ini menjadi simbol nyata toleransi dan harmoni antarumat beragama di Kota Solo.
Rendah hati dan sederhana—itulah gambaran dari prosesi Pindapata yang diawali dengan pelepasan burung dan balon warna-warni oleh para Bhante, disusul dengan pertunjukan Liong dan Barongsai yang menyemarakkan suasana. Setelah itu, para Bhante, calon biksu (Samanera), dan perempuan pertapa (Atthasilani) berjalan bertelanjang kaki mengitari pelataran Balai Kota sembari membawa mangkuk dana. Dengan khidmat, mereka menerima persembahan berupa makanan dan kebutuhan harian dari umat Buddha yang hadir.
"Ini bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi jalan hidup para Bhante. Kami membawa mangkuk itu untuk mengemis—siapa pun boleh memberi, tanpa terkecuali. Inilah praktik welas asih dan kerendahan hati yang telah ada sejak zaman India Kuno," ujar Bhante Jayaratno Thera dalam sambutannya.
Di Indonesia, Pindapata biasanya dilakukan di lingkungan vihara. Namun, dalam kegiatan ini, prosesi dilakukan secara terbuka di ruang publik, sebagaimana praktik yang lazim di negara-negara mayoritas penganut Buddha, di mana para Bhante berjalan dari rumah ke rumah atau di jalan umum.
Melalui Pindapata, umat Buddha diajak untuk memberi dengan tulus—baik kepada para Bhante maupun kepada siapa pun yang membutuhkan. Nilai-nilai ini menjadi bekal kebajikan yang bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.
"Filosofi Pindapata adalah menerima secukupnya dan memberi seikhlasnya. Ini merupakan bentuk bakti umat," tambah Sutrisno, Ketua Panitia Perayaan Tri Suci Waisak Kota Surakarta 2025.
Tercatat, sedikitnya 19 Bhante dan praktisi lainnya dari berbagai daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten turut serta dalam prosesi ini. Kegiatan ini menjadi kali kedua diselenggarakan di Surakarta, setelah sebelumnya digelar pada tahun 2023.
Para Bhante pun mengapresiasi kehadiran Wali Kota yang dinilai sebagai bentuk komitmen pemerintah kota dalam mendukung kerukunan antarumat beragama. Disebutkan bahwa hanya sedikit kota di Indonesia yang dapat menyelenggarakan Pindapata secara terbuka, dan Surakarta menjadi salah satunya.
"Kami sangat mengapresiasi Pemerintah Kota Solo dan Bapak Wali Kota yang mendukung penuh kegiatan ini. Ini bukti bahwa Solo adalah kota yang menjunjung tinggi toleransi," kata Bhante Jayaratno Thera.
Dalam kesempatan itu, Wali Kota Respati Ardi menegaskan komitmen Pemkot Solo untuk terus mendukung seluruh kegiatan keagamaan di Kota Bengawan.
"Kita bersama-sama memupuk toleransi. Umat Buddha di Solo adalah bagian penting dalam pembangunan kota. Kami berharap sinergi dan kebersamaan ini terus terjaga demi mewujudkan Kota Solo yang ayem-tentrem dan guyub-rukun," ujar Wali Kota.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan peran Surakarta sebagai Kota Budaya yang tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga menjunjung tinggi nilai spiritualitas, toleransi, dan keberagaman yang menjadi kekuatan bangsa.