Wakil Wali Kota Surakarta Buka Sosialisasi Program Pendampingan Batik Berkelanjutan di Kampoeng Batik LaweyanDalam upaya memperkuat ekosistem batik ramah lingkungan serta memberdayakan ekonomi lokal, Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) bersama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dan CECT Universitas Trisakti secara resmi meluncurkan Program Pendampingan Batik Berkelanjutan melalui kegiatan sosialisasi yang berlangsung di Kampoeng Batik Laweyan, Surakarta.
Kegiatan yang diselenggarakan di kediaman Bapak Iwan (Batik Halus Puspa Kencana), Jalan Sidoluhur No.75, Laweyan ini secara resmi dibuka oleh Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, yang hadir mewakili Pemerintah Kota Surakarta. Dalam sambutannya, Ibu Astrid menegaskan komitmen pemerintah kota dalam mendukung transformasi sektor usaha kecil menengah (UKM), khususnya perajin batik, menuju praktik yang lebih ramah lingkungan.
“Kampoeng Batik Laweyan bukan hanya warisan budaya, tapi juga pusat ekonomi kreatif yang memiliki potensi besar untuk berkembang melalui pendekatan berkelanjutan. Kami sangat mengapresiasi langkah PT BNI bersama mitra yang turut menginisiasi program ini,” ujar Ibu Astrid.
Program Pendampingan Batik Berkelanjutan ini merupakan hasil kolaborasi antara PT BNI (Persero) Tbk, CECT Universitas Trisakti, dan FPKBL. Tujuannya adalah memperkenalkan dan mendorong penggunaan stearin sawit sebagai bahan baku alternatif dalam proses membatik, menggantikan malam konvensional yang kurang ramah lingkungan.
Dalam sesi sambutan, perwakilan dari PT BNI memaparkan komitmen perusahaan untuk mendukung transformasi hijau UMKM melalui inovasi pembiayaan dan pendampingan teknis.
Ketua FPKBL, Alpha Fabela Priyatmono, menekankan pentingnya pendekatan budaya dalam transformasi batik berkelanjutan. Ia menyampaikan bahwa penggunaan stearin sawit bukan hanya solusi teknis, tetapi juga langkah strategis untuk mempertahankan identitas batik Laweyan sembari menyesuaikan dengan tantangan zaman.
“Kami ingin agar batik Laweyan tetap otentik namun mampu menjawab tuntutan global untuk praktik yang lebih beretika dan ramah lingkungan,” jelas Alpha.
Dalam sesi berikutnya, Direktur Market Transformation dari RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil), Dr. M. Windrawan Inantha, turut memberikan pandangan mengenai potensi besar penggunaan produk sawit berkelanjutan di sektor kerajinan. Ia menyoroti peluang pasar internasional yang semakin menuntut sertifikasi keberlanjutan dalam produk tekstil, termasuk batik.
Sesi sosialisasi program disampaikan secara mendalam oleh Dr. Maria Ariesta Utha dari CECT Universitas Trisakti, yang menjelaskan roadmap program pendampingan, strategi penguatan tata kelola kelembagaan, serta peningkatan kapasitas para perajin batik agar dapat beradaptasi dengan tren industri hijau.
Kegiatan yang dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk perwakilan komunitas batik, akademisi, dan pelaku industri, ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif dan diskusi terbuka. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi dan menyatakan kesiapan untuk ikut ambil bagian dalam implementasi program.
Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama dan ramah tamah, menandai awal dari komitmen bersama untuk menjadikan Kampoeng Batik Laweyan sebagai model transformasi batik berkelanjutan di Indonesia.