Informasi

Detail Berita

Ratusan Kader PKK dan Posyandu Antusias Ikuti Talkshow Gizi Bersama Dr. dr. Tan Shot Yen: Tekankan Pentingnya Protein Hewani Lokal untuk Cegah Stunting

Ratusan Kader PKK dan Posyandu Antusias Ikuti Talkshow Gizi Bersama Dr. dr. Tan Shot Yen: Tekankan Pentingnya Protein Hewani Lokal untuk Cegah Stunting

Ratusan Kader PKK dan Posyandu Antusias Ikuti Talkshow Gizi Bersama Dr. dr. Tan Shot Yen: Tekankan Pentingnya Protein Hewani Lokal untuk Cegah Stunting

SURAKARTA, 30 September 2026 - Dalam upaya berkelanjutan untuk menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan keluarga, sebanyak 250 peserta yang terdiri dari perwakilan Kader Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Kader Posyandu, Ahli Gizi SPPG, dan masyarakat umum memadati acara *Talkshow* "Peran PKK dalam Meningkatkan Gizi bagi Masyarakat". Acara edukatif ini dilangsungkan pada Rabu siang, 30 September 2026, dengan menghadirkan pakar gizi kenamaan, Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum, sebagai narasumber utama. Kegiatan ini difokuskan pada penguatan literasi dan edukasi gizi di tingkat akar rumput, dengan menempatkan kader PKK dan Posyandu sebagai garda terdepan penggerak perubahan di masyarakat. Dalam paparannya, Dr. dr. Tan Shot Yen membedah secara tuntas berbagai aspek krusial terkait gizi anak dan keluarga, mulai dari pemahaman dasar stunting hingga praktik pemberian makan yang tepat. 

Menutup 5 Pintu Stunting Dimulai dari ASI

Sebagai langkah awal, peserta diajak untuk memahami akar masalah stunting. Mengacu pada materi presentasi narasumber yang bertajuk "Protein hewani untuk tumbuh tinggi berprestasi", Dr. dr. Tan Shot Yen memaparkan adanya "5 Pintu Menuju Stunting", yang meliputi kondisi ibu hamil (anemia/KEK), inisiasi menyusu dini yang gagal, kegagalan ASI eksklusif, MPASI yang tidak tepat, hingga anak yang sering sakit akibat sanitasi atau imunisasi yang buruk. Oleh karena itu, penekanan utama diberikan pada manfaat Air Susu Ibu (ASI) dan pentingnya pemberian ASI eksklusif. ASI ditegaskan bukan sekadar makanan, melainkan hak anak dan pondasi imunitas yang tidak bisa digantikan oleh susu formula atau produk komersial lainnya. 

Revolusi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Berbasis Pangan Lokal

Salah satu sorotan utama dalam talkshow ini adalah edukasi terkait Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita usia 6-59 bulan. Dr. dr. Tan menyoroti fenomena keliru di masyarakat di mana PMT Posyandu sering kali berupa jajanan warung, biskuit kemasan, atau makanan tinggi gula, garam, dan lemak yang miskin gizi. Sesuai dengan pedoman pada Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta Buku Saku Kader Kesehatan, PMT seharusnya menjadi ajang edukasi bagi para ibu, bukan sekadar pemberian makanan seadanya. PMT yang disarankan harus padat gizi, diutamakan dari pangan lokal, dan kaya akan protein hewani seperti siomay ayam udang, telur dadar isi daging, atau panada ikan tongkol. "Tidak perlu mencari sumber gizi yang mahal. Pangan lokal Indonesia seperti telur, ikan kembung, dan ikan teri nasi segar (bukan asin) adalah kekayaan nusantara yang menjadi gizi para juara," jelas Dr. dr. Tan dalam panduannya. Beliau menekankan bahwa telur adalah sumber protein terlengkap dan kaya kolin untuk kecerdasan otak, sementara ikan kembung lokal memiliki kandungan Omega 3 yang tidak kalah, bahkan lebih tinggi, dari ikan salmon. Selain gizi balita, para ibu dan kader juga dibekali edukasi mengenai asupan pelengkap dan kudapan selingan sehat yang mudah dibuat di rumah. Hal ini diharapkan mampu mengatasi masalah "Gerakan Tutup Mulut" (GTM) pada anak tanpa harus mengandalkan makanan instan yang justru berisiko memicu stunting di kemudian hari. Melalui *talkshow* ini, diharapkan para kader PKK dan Posyandu semakin berdaya dan percaya diri dalam mengedukasi warga di lingkungannya masing-masing. Pengetahuan dasar yang kuat tentang gizi, pedoman KIA, serta optimalisasi protein hewani lokal diyakini akan menjadi kunci sukses dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang tumbuh tinggi, sehat, dan berprestasi.