Informasi

Detail Berita

Bunda Literasi Jateng Ajak Masyarakat Jadi Duta Baca, Perkuat Literasi dari Keluarga

Bunda Literasi Jateng Ajak Masyarakat Jadi Duta Baca, Perkuat Literasi dari Keluarga

Bunda Literasi Jateng Ajak Masyarakat Jadi Duta Baca, Perkuat Literasi dari Keluarga


SURAKARTA – Bunda Literasi Provinsi Jawa Tengah, Hj. Nawal Arafah Yasin, mengajak seluruh masyarakat untuk mengambil peran dalam menguatkan budaya literasi. Literasi dinilai tidak sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, memilah, mengolah, serta menggunakan informasi secara kritis dan bijak dalam kehidupan sehari-hari.


Hal tersebut disampaikan Bunda Literasi Provinsi Jawa Tengah, Hj. Nawal Arafah Yasin, dalam pembukaan Solo Literasi Festival 2026 di Ndalem Joyokusuman, Solo, Kamis (17/9/2026). Solo Literasi Festival 2026 berlangsung pada 17-19 September 2026.


Menurutnya, tantangan literasi saat ini semakin kompleks seiring derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital. Masyarakat tidak cukup hanya mampu membaca, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk memilah informasi yang bermanfaat, kredibel, maupun informasi yang tidak benar.


“Banyak yang memahami bahwa literasi itu hanya baca tulis. Tetapi justru pada saat ini tantangan kita itu lebih kompleks lagi. Belum selesai menghadapi literasi baca tulis, ternyata sudah harus menghadapi literasi digital,” ujarnya.


Ia menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi informasi yang begitu banyak beredar melalui perangkat digital. Literasi juga berkaitan dengan kemampuan mengolah data dan informasi sehingga dapat memberikan manfaat serta mendorong kreativitas.


“Bagaimana banyaknya informasi yang ada di HP kita itu bisa kita memilah data. Mana yang bermanfaat untuk kita, mana yang hoaks, mana yang kredibel. Inilah ciri bahwa kita terliterasi atau tidak,” jelasnya.


Dalam kesempatan tersebut, Bunda Literasi Jawa Tengah juga memaparkan kondisi indeks literasi di Jawa Tengah dan Kota Surakarta. Berdasarkan data yang disampaikannya, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kota Surakarta berada di peringkat keempat di Jawa Tengah dengan skor 26,54.


Sementara itu, Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) Kota Surakarta berada pada angka 56,96 dan masih masuk kategori rendah. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu menjadi bahan evaluasi sekaligus dorongan untuk memperkuat berbagai upaya peningkatan literasi.


“Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah cerminan dari berapa banyak anak yang belum menemukan buku yang bisa mengubah hidupnya, berapa banyak guru yang belum memiliki akses ke bahan bacaan yang berkualitas, dan berapa banyak keluarga yang belum menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari,” tuturnya.


Ia menilai penguatan budaya literasi harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Orang tua perlu memberikan teladan kepada anak karena pendidikan tidak cukup hanya melalui perintah atau nasihat.


“Orang tua lebih senang menyuruh anaknya untuk membaca, tetapi dia sibuk scroll di HP. Pendidikan itu adalah bagaimana teladan, bukan apa yang diucapkan,” katanya.


Selain keluarga, penguatan literasi juga perlu dilakukan melalui sekolah, komunitas, serta kebijakan pemerintah. Kolaborasi seluruh pihak diperlukan agar gerakan literasi dapat terus berjalan dan memberikan dampak bagi masyarakat.


Menurutnya, kemampuan membaca juga perlu diarahkan pada pemahaman, bukan sekadar kemampuan mengeja atau menghafal. Anak perlu dibiasakan memahami hubungan antarkalimat, antarparagraf, serta mampu mengembangkan inovasi dan kreativitas dari apa yang dibacanya.


“Bagaimana anak ini bisa menelurkan inovasi, bagaimana anak ini bisa menelurkan kreativitas. Perbaikan di skup keluarga, perbaikan di sekolah, ini menjadi salah satu hal yang harus menjadi kepedulian kita bersama,” ujarnya.


Ia juga menyoroti pentingnya literasi digital dalam membangun etika masyarakat di ruang digital. Menurutnya, masyarakat perlu membawa nilai-nilai kesopanan dan *unggah-ungguh* yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari ke dalam interaksi di media sosial.


“Kadang-kadang kita tidak menempatkan adab yang sama antara ketika kita bersua secara langsung dengan bersua secara online. Ini menjadi PR kita bersama,” katanya.


Dalam konteks tersebut, karakter budaya Jawa yang kuat di Kota Surakarta dinilai dapat menjadi salah satu potensi untuk memperkuat gerakan literasi sekaligus membangun karakter masyarakat.


Lebih jauh, Bunda Literasi Jawa Tengah mengajak seluruh peserta dan masyarakat untuk tidak memandang kegiatan literasi sebagai tugas segelintir orang. Menurutnya, setiap warga dapat mengambil peran sebagai duta baca dengan mengajak lingkungan sekitar untuk mencintai buku dan pengetahuan.


“Saya menginginkan duta baca itu bukan hanya satu buah atau belasan yang ada di kabupaten kota, tetapi justru semua yang hadir di sini, semua masyarakat itu seharusnya bisa menjadi duta baca,” tegasnya.


Ia menjelaskan, semakin banyak seseorang membaca, semakin banyak pula perspektif yang dapat dipelajari. Hal tersebut diharapkan dapat membentuk karakter dan kebijaksanaan sehingga masyarakat tidak mudah menghakimi, memprovokasi, maupun melihat suatu persoalan hanya dari satu sudut pandang.


“Membaca itu bukan hanya kemudian coba ceritakan, bukan? Tetapi terbentuk sebuah karakter, terbentuk sebuah kebijaksanaan di situ,” ungkapnya.


Ia berharap Solo Literasi Festival 2026 menjadi momentum untuk memperkuat gerakan literasi yang berkelanjutan. Menurutnya, keterbatasan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghentikan berbagai gerakan literasi, melainkan menjadi dorongan untuk memperkuat kolaborasi.


“Mari kita tinggalkan jejak yang bermakna, jejak karya, jejak keberdayaan, jejak budaya dan jati diri yang kita jaga. Generasi yang membaca akan mengetahui dunia, generasi yang berkarya akan mengubah dunia, dan generasi yang berbudaya akan menjaga dunia yang diwariskan,” pungkasnya.